Rabu, 01 April 2009

What Is Christian Education? (Pandangan Pribadi)
Oleh: Oliver J. C. Maengkom
Pendidikan Kristen seperti halnya memasak makanan. Semua orang dapat memasak makanan, namun setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing yang membedakan masakannya dengan masakan orang lain. Pendidikan Kristen merupakan masakan yang memiliki cita rasa tinggi yang membuatnya berciri khas sehingga apa yang ada dalam “masakan” pendidikan Kristen tidak dapat ditemukan di “masakan” pendidikan lainnya. Salah satu ciri khas dari “masakan” pendidikan Kristen adalah bumbunya. Seperti contoh, jika kita memasak bubur Manado di Jakarta maka dijamin rasanya tidak akan seenak bubur Manado yang dimasak di kota Manado karena di Jakarta tidak dapat ditemukan salah satu bumbu inti bubur Manado yakni daun gedi. Daun gedi selain memiliki rasa yang khas juga memiliki fungsi membuat masakan menjadi kental. Oleh karena itu, untuk mensiasati hal ini, orang Jakarta menggunakan ubi sebagai pengganti daun gedi untuk mengentalkan masakan. Meskipun demikian, soal rasa tidak dapat disiasati antara rasa dan kekentalan khas daun gedi dengan ubi. Satu-satunya cara orang Jakarta dapat membuat bubur Manado seperti orang Manado adalah dengan belajar langsung dari orang Manado, artinya ia harus mengalami sendiri proses belajar memasak bersama orang Manado asli dan menggunakan daun gedi dan bukan ubi. Dalam pendidikan Kristen, para pendidik haruslah orang yang tahu mengenai Kristus, telah mengenal Kristus, dan percaya kepada Kristus. Dengan telah mengalami pengalaman pribadi bersama dengan Kristus barulah mereka dapat membagi pengalamannya tersebut kepada orang lain. Pendidikan Kristen merupakan pendidikan yang para peserta didik harus mengalami sendiri proses ketika Kristus ada dalam setiap pelajaran. Merupakan tugas guru yang berperan sebagai refleksi dari karakter Kristus Dari ciri khas makanan tersebut, dapat digolongkan lagi masakan yang baik dan masakan yang tidak baik. Masakan yang baik adalah masakan yang sehat. Standar kesehatan tersebut ditetapkan oleh beberapa pihak. Salah satu contohnya adalah ahli gizi kuliner. Seorang ahli gizi kuliner tentunya mengetahui zat/nutrisi apa saja beserta jumlah kandungannya yang diperlukan tubuh manusia untuk bertumbuh dan zat apa saja yang harus dihindari untuk dikonsumsi manusia. Inilah yang menjadi standar bagi seorang ahli gizi kuliner untuk menentukan apakah makanan tersebut baik untuk dikonsumsi. Dalam pendidikan Kristen, yang berperan sebagai ahli gizi kuliner sebagai pembuat standar adalah Kristus sendiri melalui firmanNya yang telah tertuang di dalam Alkitab. Tujuan orang memasak makanan adalah untuk makan. Manusia makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh yang sedang lapar sehingga dapat memperoleh kembali tenaga untuk beraktivitas. Tanpa makan orang akan mati. Manusia tidak akan tidak mencari makan karena itu merupakan kebutuhan utama tubuh dan merupakan natur manusia. Tubuh manusia akan secara otomatis menolak makanan yang tidak dapat diterima tubuh. Apabila makanan tersebut dipaksakan masuk maka tubuh akan menimbulkan gejala-gejala/reaksi yang membuat tubuh itu sendiri merasa sakit. Begitu juga halnya pendidikan Kristen. Hanya di dalam pendidikan Kristen kebutuhan manusia akan terpenuhi karena manusia diciptakan untuk melayani Tuhan dan hanya Tuhan sebagai pencipta manusia yang tahu akan kebutuhan ciptaanNya. Pendidikan Kristen seperti halnya memasak makanan. Makanan tidak akan ada bila tidak ada orang yang memasaknya dan makanan tersebut menjadi terkenal bukan karena keunikan makanan tersebut melainkan siapa yang membuat makanan tersebut unik. Pendidikan Kristen tidak akan ada bila tidak ada Kristus yang memulai. Pendidikan Kristen ada untuk mengarahkan manusia agar tidak tersesat dalam perjalanan mereka menjalani kehendak Tuhan.